Photobucket

Selasa, 01 Maret 2011

My Oriflame Biz and My New Free Web




Dari tahu pertama kali iklan dBC-Network sampai akhirnya memutuskan bergabung, saya butuh waktu sekitar 8 bulan. Terlambatkah?


Saya tidak tahu. Semoga saja masih ada kesempatan. Bukankah harapan mencerminkan masa depan? Setidaknya membuka peluang lebih besar daripada saya berdiam diri.
Bagi saya, sekecil apapun kesempatan, tetaplah peluang. Saya ambil dan saya perjuangkan.

Lalu apa pertimbangan saya ketika akhirnya memilih, ya?
Ini semacam sebuah perkawinan. Banyak pertimbangannya. Awalnya, web replika yang dijanjikan tidaklah menarik. Itu bagi saya. Maaf founder. Dan ternyata, saya terlalu meremehkan Dini Shanti. huhu. It's crazy. Semakin hari, jenis web replika sebagai fasilitas member oriflame di jaringan Nadia M dan Dini Shanti makin banyak dan menarik, menyasar banyak segmen. Tak hanya itu.


Sebagai member,saya juga difasilitasi web banner untuk ditampilkan pada blog, web atau dimanapun sebagai media iklan. Bannernyapun keren dan beragam jenisnya. Hampir tiap bulan, ada saja yang baru. Saya kira ini bagai perusahaan tersendiri.

Ini beberapa contohnya. Dan masih banyak lagi. Dan Gratis.

Inilah web replika utama untuk saya dari dBC-Network.
http://www.dbc-network.com/index.php?id=seiko

http://www.dbc-network.com/index.php?id=seiko&page=2
http://www.dbc-network.com/index.php?id=seiko&page=3

Ada juga fasilitas landing page, contohnya :


http://www.dBCN-KerjadiRumah.com/?id=seiko

http://www.dBCN-MenebusImpian.com/?id=seiko

http://www.dBCN-BelanjaBulanan.com/?id=seiko

http://www.dBCN-PensiunTenang.com/?id=seiko

http://www.dBCN-DareToBe.com/?id=seiko

http://www.dbcn-kantorkedua.com/?id=seiko&s1= 


Btw, semua banner disamping juga akan melaju ke site bisnis kita di web replika dBCN. Tapi yang diluar web ya. Karena untuk membuat link, kita butuh kode html-nya. Sulit? tidaklah. Kalau sudah bergabung, saya bisa tunjukkan untuk Anda.


Makanya silakan bergabung oriflame via dBCN. Saya yakin jalannya akan lebih mulus daripada jaringan lain.

Senin, 28 Februari 2011

pesananku Datang

Cepat sekali. Bukankah pesannya baru kemarin lusa?



Well, saya puas soal pengiriman barang dari oriflame. Saya pesan 2 barang yaitu jazz fussion lip palette dan day fluid [pelembab]. Kebetulan punya saya habis [merk lain]. Jadi ini bentuk pengalihan belanja bulanan. Belum cukup untuk WP1. Apaan tuh?

That's okey, masih ada setengah bulan lagi, moga bisa tercapai.
Sst, yuyun yang ndak pernah dandan jadi tertantang nih. Gitulah kalau ada misinya.


Begitu nyampe langsung dicoba dan langsung difoto. hmm saya suka glossinya. Mungkin perlu difoto bibis saya pakai kedua make-up ini ya...

Next day ya
Hari ini sudah terlalu lama ngeblog sih..




Btw, wangi pelembabnya saya sukaa, mirip kalau pakai Olay. But Olay didn't give me money!
Hahahahha....
Saya mau cerita juga, pengemasannya rapi lho. Seperti foto disamping ini nih. Jadi jrupanya tak perlu khawatir, kalau-kalau barang rusak, make up gitu lho, rada riskan. Selain itu di dalamnya juga ada potongan kertas yang digunting rapi untuk memastikan barang didalamnya tidak terkocak-kocak saat pengiriman. So, what do you think?

Rabu, 23 Februari 2011

Tambah Pinter

Sharing pertamaku soal bisnis online yang kuikuti ini hehemmm ternyata, rasanya membuatku tambah pintar, tambah melek dunia perbloggingan. Jadi blogku pun makin cantik. ada hiasannya html-html beginu. hahahha

Kalian yang sirik sini-sini belajar sama aku. Bayar 39.900 ya. Murah to.. Tak kasih bonus wes, starter kitnya oriflame.

Walah sombongnya. Baru bisa begini aja. Minta dibayarin. Yang lebih pinter ajarin aku donk, jangan diketawain yah :D


Cuma templatenya kurang asik yah. Dulu udah pernah download banyak, cuma kurang sreg dan bosan pada akhirnya. Jadi ganti aja. Nanti cari-cari lagi deh yg gratisan saja. Hepiiii deh...

Sabtu, 19 Februari 2011

Internet Marketing, Tidak Mudah tapi Bisa Dipelajari

Awalnya dikasi langganan internet sama suami, saya kepikiran untuk belajar serius mengenai internet marketing. Kenapa? Well, saya seorang ibu dengan anak 5 bulan saat itu. Pingin ada another income selain dari suami. Tapi masih enggan mencari pekerjaan. Pingin bisnis sendiri, repot meyakinkan orangtua dan mertua. Duh mertuaku takut anaknya bangkrut dan dikejar-kejar debt collector. Aya aya wae ^^

Tapi ternyata tidak semudah dugaan saya. Meski ilmu gratisnya betebaran di internet, tdak mudah bagi saya mempelajarinya. Hal ini disebabkan oleh tak runtutnya materi  yang saya dapat dari web ataupun blog tertentu. Semuanya membagi ilmunya secara terpisah-pisah. Rahasia perusahaan mungkin ya?


Mulai dari ingin jualan online, ada sih yang laku, satu dua biji. Tapi saya kurang gigih. Mau sistem dropship lewat ebay, mau beli tutorial ebooknya, takut ketipu. Bukan tanpa alasan. saya pernah membeli ebook berlabel otomatis. OMG, itu sangat berlebihan, karena yang otomatis tentu saja tidak mungkin. Membuat blog itu mudah. Anda tinggal buka blogger.com, wordpress.com atau yang gratisan lainnya. Tapi untuk membuatnya dibaca banyak orang dan mengalirkan pesanan atas sistem reselling ebook yang Anda beli? hohoho nanti dulu.

Tidak bisa serta merta. Semua butuh perjuangan. Konsistensi menulis. Tulisan yang menarik, unik, mudah dibaca, informatif, solutif, hui, itu semua bukan perkara mudah. Apalagi jika Anda bukanlah seseorang yang hobi berat untuk menulis. Balik ke ebay. Tidak mudah juga mempelajarinya. Bolak-balik saya bikin email khusus, tapi kemudian lupa. Saking banyaknya dan langkah yang belum terarah.

Lalu kepikiran untuk kursus online pada seseorang. Namun saya masih ragu juga. Worth it kah?

Entahlah, pada orang lain mungkin dan selamat. Pada saya? tidak tahu, kan belum dicoba.
Sampai pada akhirnya, untuk urusan bisnis online ini saya serahkan diri pada sebuah bisnis online dengan fasilitas web replika. Well, don't know what will happen then. But, just fight!

Si USIL

Si 21 bulan, sejak 6 bulan yang lalu udah pinter ngusilin emaknya

Nyanyi yuk [kataku]
#  Satu-satu aku sayang iiiii.....
>  kaaaaaaaakkk

#  ibuuuu !!!! dua dua aku sayang kaa........?
>  kaaaaaaakk.........
#  [pinter] tiga tiga sayng aaaa ........... ?
> kaaaaaaaaaakkk hahahhahaa
#  heh!! deek kakak. satu dua tiga saya seee...?
> kaaaaaaaaaaaaaaaakkkk hehihihooohooo

# abiiiiyyyyy

Kamis, 17 Februari 2011

Februari Harus berVISIMISI

Sampe bulan februari 2011, my lil fam ni masih adem aja, ndak punya resolusi sama sekali. Mungkin karena suami bukan orang organisasi, jadi tenang-tenang saja hidup tanpa visi jauh. Hanya misi jangka pendek berupa pingin investasi berupa tanah, itupun yang bisa dikredit 100 jutaan.

Hmm, itu buruk. Padahal saya mencanangkan haji 9 tahun lagi. Artinya tahun 2020 berangkat. Padahal tabungan haji kami masing-masing baru berisi 700 ribu.
Kalau mengandalkan gaji, rasanya tidak mungkin bisa tahun 2020. kami harus melakukan langkah konkret seperti nyeper yang halal, usaha lain yang memungkinkan kami bisa mencapai cita-cita menjalankan kewajiban.

Hei tapi bukankah haji itu bagi yang mampu? Yuppe lah, namun bagi kami, makna dari yang mampu adalah kewajiban bagi umat muslim untuk berjuang sekuat tenaga agar mampu secara fisik dan ekonomi menunaikan ibadah haji.

Lha kalo sebagai umat cuma duduk metongkrong [kaya saya sekarang ini :D] darimana bakal mampu?

Resolusi lain yang harus terlaksana tahun ini?
ah, saya butuh 1 hari

Kamis, 27 Januari 2011

Cara Makan Batita Qu

Januari 2011 ini, batita 2 tahunku [kurang 4 bulan] mempunyai pola makan yang belum teratur. Sebenarnya sudah pasti itu alah saya, ibunya. Kekurangan saya adalah belum mampu mendisiplinkan diri untuk menyuapinya tepat waktu.

Kendala lain adalah saya tak tega membangunkan aak dari tidurnya, apabila mbangkong alias bangun kesiangan. Walhasil, sarapan menjadi tertunda. Efeknya berantai. Karena sarapan pagi tertunda, begitu pula makan siang dan malam.

Jika ingin berubah, maka sayalah yang harus berubah terlebih dahulu.

Anakku tumbuh sehat dengan berat badan antara 10,2 hingga 11 kg. Masih naik turun. Kenapa? karena kadangkala nafsu makannya turun drastis. atau karena bepergian, membuatnya malas makan.

Perkara nafs makan yang naik turun itu, saya akali dengan selalu membuatkan agar-agar susu dan penthol ikan/ daging untuk disimpan. Sehingga jika sedang malas makan nasi, itulah camilannya. Setidaknya, dia makn makanan bersih, sehat. Oh tidak, saya tidak ingin anak saya tidak makan nasi dan menggantinya dengan jajanan ringan 500-an itu. Kita tak tahu bukan dari bahan macam apa, jajanan itu diproduksi.

Senin, 27 Desember 2010

My Blog

Awalnya blog ini saya buat untuk mengisi waktu, mengarsip ilmu bertebaran, sekalian peluang. Akan tetapi yang terakhir, saya tak begitu menginginkannya lagi. It's not my priority to become a very rich woman. No, Im not interest in. I love my life, my simple life. And I state that, treasure is will not be my destination. But Allah.

Saya pikir saya musti lebih lurus.
Tentunya tidak bersalah  mereka yang sangat kaya, tentunya dengan cara yang halal.

Sedangkan halal itu, haruslah hasan atau baik. Tidak membunuh orang lainnya. Pernahkan anda dengar orang berjualan penuh rayuan memanja, namun jualannya tidaklah semanis gombalannya.

Ah, saya tidak bisa seperti itu.

Sedangkan tujuan mengisi waktu, it's work. Ada yang berjalan diatas relnya. Saya ingin sekali mengarsip kesehatan anak saya sendiri, untuk bisa saya pelajari kemudian hari.

Rabu, 08 Desember 2010

Astaga Desember!

Oh My God!

Saya melewatkan Nopember ceria, tanpa posting satu biji pun. Tuhan, maafkan saya!

Padahal sudah bertekad bulad, semalas apapun, selebay apapun saya musti posting. Hahaha..
Moms semua, saya menyibukkan diri dengan beberapa hal di Nopember ini. Apakah itu, ikut tes CPNS. Hahahaha

Saya ingin tertawa, dan moms semua juga boleh ikut tertawa atau menertawakan saya. Bagaimana tidak? Bukankah beberapa saat lalu, saya posting keinginan saa untuk menjadi pengusaha? Sebuah profesi yang menurut saya paling ramah untuk anak-anak. Bahkan hingga saat ini.

Hingga sekarang setelah saya dinyatakan DITERIMA sebagai CPNS KPU.

Selamat untuk saya. Antara senang dan tertawa. Karena memang saya, sungguh berusaha keras dengan belajar tes CPNS. Karena KPU, maka saya belajar tentang Pemilu, melalui berita dan juga UU yang terkait dengannya. Tak kurang 500 halaman saya pelajari demi keberhasilan ini.

Lalu bagaimana nasib cita-cita menjadi pengusaha?
Hmmm.... mungkinkah saya akan menjadi amphibi??

Minggu, 24 Oktober 2010

Melahirkan dan Perasaanku

Pagi itu, 9 Mei 2009, jam 5.30 WIB. Tatkala Ujank -panggilan sayang untuk suamiku- masih lelap, lelap sekali dalam tidurnya. Memang 2 jam sebelumnya, ia baru sampai rumah. Sedangkan perjalanannya dari Surabaya hari itu, masih harus pula menyetir mobil Pak Sindhu. Rekan kerjanya di Adhi Karya Kontraktor. Tentu saja capek. Love U suamiku.


Aku terbangun. Karena kurasakan ada air yang mengalir pelan-pelan dari dalam perutku melalui saluran kencing. Hangat. Ya, air itu terasa hangat membasahi celana dalam. But, hey aku tak mungkin ngompol kan? ini air apa? tanyaku dalam hati. Kenapa merembes pelan? masih bertanya-tanya.

Pelan-pelan aku bangun dan sadar belum sholat subuh. Kulangkahkan kakiku pelan menuju tempat wudlu.
Perutku semakin berat rasanya. Ini bukan keluhan. Perutku memang terasa didesak dari dalam. Bayi yang kukandung seakan-akan mau jatuh, tepatnya orang Jawa bilang koyo arep ceblok. Sampai-sampai aku benar-benar merasa perlu untuk memegangi perutku dan melindungi isinya. Setidaknya, semacam itulah rasanya, jika kau mau tahu sejujurnya. Memang sudah 9 bulan. dan hari itu, 2 minggu sebelum hari H berdasar perkiraan dokter obginku, dr. Bambang dan bidanku Bu Har Sunu.

Sehabis subuh kutunaikan. Kucoba membangunkan Ujank. Ya, dia baru saja sampai. Dan konsentrasi menyetir selama 4 jam pasti menguras energinya dan memaksa matanya untuk tertutup saja enggan terpapar sinar. Sulit bangun, sulit sekali dibangunkan. Tapi bagaimanapun harus bangun. Subuh tak bisa ditunda.

Sementara perutku terus terasa aneh. Aku tidak tahu, rasanya seperti membengkak. Memang sudah bengkak karena hamil 9 bulan. Tapi ini begitu aneh. Benar-benar terasa padat, memadat. Terasa bengkak, membengkak. Terasa penuh sekali. Keras, dan ah bagaimana lagi aku harus merinci gambarannya.

Padamu perempuan, kau akan tahu sendiri rasanya nanti. Tapi padamu para pria, ah kalian tak akan pernah tahu. Jangan pernah. Tapi mungkin kalian benar-benar ingin tahu ya? Aku kasihan sekali pada kalian. Kusuguhkan untuk kalian, agar kalian tahu bagaimana menghormati para perempuan.

Dalam usahaku membangunkan suamiku, Apri alias Ujank, air hangat masih terus mengalir. Seakan-akan mengingatkanku akan sesuatu yang lain terjadi pada tubuhku. Sempat tadi kulihat air hangat itu berwarna bening tetapi ada sedikit kotoran bersamanya. Ujank masih juga belum bangun, meski telah kugoncang-goncang tubuhnya. Aku mulai takut terlalu siang, hingga tanpa sadar aku menggertaknya keras.

"Ujaaank! Bangun!"

Sontak, bibir vaginaku seakan tersendul sesuatu. Darah mengalir pelan. Sedikit menetes mengenai betisku.
Ah darah itu begitu merah. Apakah waktunya melahirkan?

Kontan aku berteriak, "Ujank cepat bangun, sholat dan segeralah antar aku. Anak kita mau lahir. Cepaaaat"
[Belakangan jika kuingat, kok masih ada tenaga ya buat teriak... ^_^]
Begitu kagetnya dengan teriakanku. Mungkin juga karena kandungan kalimatnya. Ujank bangun segera.

Jam sudah menunjuk ke angka 6.30 pagi ketika kami akhirnya berangkat ke Bidan Har Sunu, salah satu bidan delima dikota kecilku, Trenggalek. Pikiranku sudah kacau sekali. Aku tak tahu hari H akan maju 2 minggu. Bahkan aku tak membawa perbekalan apapun. Hanya membawa baju dibadan. Bahka sebelumnya akupun bingung hendak kubawa kemana proses melahirkan ini. Rumah Sakit? Puskesmas? Bidan? Perutku sudah tak lagi membutuhkan pemikiran begitu dalam. Bayiku sudah tergesa hendak melihat dunia.

Beruntung rupanya diriku, Ujank begitu sigap mengeluarkan kijang 95 dari kandangnya melewati gang kecil dirumahku menuju Bidan Har. Begitu tenang kijang 95 itu menggelinding. Tetapi siapa sangka dibalik kijang 95 yang meskipun kusam banyak goresan, namun masih tampak kokoh itu, aku meronta, meringis-ringis, mengaduh (bukan mengeluh), mencoba menahan sakit yang teramat.

Sungguh, seperti mau pipis, jika kalian ingin tahu, mau be-ol, tetapi sesuatu yang perlu dikeluarkan itu benda yang amat besar. Berlipat besarnya dibanding tinja yang kita keluarkan. Ya berlipat. Tinja kita mungkin hanya sebesar pisang ambon. Tapi ini bayi 3 kg. Oh bukan, kuketahui kemudian bayiku keluar dengan berat 3,75 kg. Berapa berat maksilmal tinjamu? Dan lagi ini keluar melalui bibir vagina. Bukan lubang dubur.

10 menit perjalanan yang kami butuhkan untuk menuju Bidan Delima Suhartini Sunu. Lebih terkenal dengan sebutan Bu Sunu. Sesampainya disana. Aku masih harus menunggu. Tentu saja, karena mendadak, Bu Sunu belum menyiapkan satu alatpun. Tentu Saja. Dan kalian tentu tahu apa artinya itu bagiku. Oh bagi perutku yang berisi bayi 3,75 kg yang tak sabar untuk segera keluar dari ruang yang tak lagi luas. Dan sangat mungkin mulai ketakutan dengan semakin berkurangnya air ketuban yang hangat membungkusnya dan memberinya oksigen untuk dihirup.

Sungguh mulas. Mulas sekali rasa perutku. Mulas yang amat sangat. Pasti lebih daripada apa yang dirasakan saat kaum perempuan sedang mendapatkan tamu bulanannya. Ini jauh sekali. Karena itu, hormatilah ibumu. Sungguh saat itu, aku benar-benar teringat ibu. Dan aku menangis, bukan karena sakit yang amat sangat, melainkan teringat perjuangan ibuku dulu. Beginikah? Ah, aku lupa. Tentu yang dirasakan ibu lebih dahsyat. Bukankah menjelang aku dilahirkan, bapakku sedang dalam kondisi sakit. Beliau sakit patah kaki akibat kecelakaan motor kala itu. Sedang aku kini, merasakan detik-detik kelahiran anak pertamaku dengan ditemani suami tersayang.

Aku terus-menerus mengucap istighfar, tasbih, takbir. Bergantian. Kadang dengan suara pelan, kadang keras menjerit, jika aku kaget dengan sundulan bayiku. Dia benar-benar merangsek. Memaksa sekali. Jika dibahasakan, mungkin dia akan berteriak, "Keluarkan aku, air ketubanmu mulai habis ibuk!"

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Pekikku kaget. Ya Allaahh.. Ya Allaah..
Pintu belum juga dibuka, sejak ibuku memencet bel7 menit yang lalu. Aku duduk menunggu di kursi rotan berbantal spon yang seharusnya empuk di teras rumah Bu Sunu. Kursi itu sama sekali tak nyaman. Bagaimana bisa nyaman, jika duduk dalam keadaan kebelet? Aku hanya bisa meletakkan ujung pantat di ujung kursi. Bayiku akan berontak jika kududukkan di kursi.

Akhirnya, pintu pun terbuka. Aku sudah melihat ruang persalinan Sang Bidan sebelumnya. Aku mau cepat-cepat sampai ranjang melahirkan. Sungguh pegal punggungku, rasanya tak mampu lagi berdiri. Aku harus tahan. Dengan terengah-engah sedikit, sambil dipapah Ujank, aku berjalan menyusuri koridor pendek menuju ruang bersalin.

"Naik ranjang Mbak. Sini, kakinya disini", kata Sang Bidan.
"Lhoooh!, lha kepalanya sudah kelihatan? Wah, sek, tunggu, lha alatnya belum disterilkan!", teriaknya lagi.

"Uhuhuhuhu..Bayiku anak baik, bersabarlah", doaku dalam hati. Jangan bayangkan fisikku tenang. Meski berusaha keren dengan tetap cool, imut, dan menarik, tentu saja segala upaya itu tak berbuah. Aku berteriak sekali-kali. Ya ya ya. Yang benar berkali-kali. Jangan kau gurui aku. Tentu saja aku ingin melahirkan dengan ekspresi manis dan senyum bak ratu kecantikan sejagad raya sedang jalan di catwalk.

Tapi melahirkan, memang sakit sekali. Untuk diingat, ada makhluk hidup imut yang ingin keluar melalui lubang vagina sebesar 3,75 kg. Panjangnya sekitar 51cm. Anda semua bisa bayangkan itu.

"Sek, tahan ya...", kata Bidan lagi, coba memperingatkan aku.
"Tahan? bagaimana, sudah tak bisa, mau keluar dia"lirihku.
"iya, wes siap. Ngeden kuat ya?" mulai.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt *******sensor*********

Prosesnya cukup panjang.
Setidaknya dari masuk ruang bersalin jam 6.30 WIB. Bayiku akhirnya keluar tepat jam 7.00 WIB.
Suamiku Ujank sayang dan Ibuku berjasa sekali menjadi tempatku bersandar dan menghisap kekuatan melalui pegangan tangan penuh kasih.
Bayi mungil, yang kemudian kami namai Farros Abiy Maulana itu lahir dengan normal dan selamat.
Semoga menjadi anak sholeh yang cerdas, pintar, kreatif, tampan.

Semoga Rahmat Allah selalu menyertai kami sekeluarga dan semua umat muslim muslimin sedunia. Aaamiiin.....
 

Hepimam | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL