Photobucket

Kamis, 17 Februari 2011

Februari Harus berVISIMISI

Sampe bulan februari 2011, my lil fam ni masih adem aja, ndak punya resolusi sama sekali. Mungkin karena suami bukan orang organisasi, jadi tenang-tenang saja hidup tanpa visi jauh. Hanya misi jangka pendek berupa pingin investasi berupa tanah, itupun yang bisa dikredit 100 jutaan.

Hmm, itu buruk. Padahal saya mencanangkan haji 9 tahun lagi. Artinya tahun 2020 berangkat. Padahal tabungan haji kami masing-masing baru berisi 700 ribu.
Kalau mengandalkan gaji, rasanya tidak mungkin bisa tahun 2020. kami harus melakukan langkah konkret seperti nyeper yang halal, usaha lain yang memungkinkan kami bisa mencapai cita-cita menjalankan kewajiban.

Hei tapi bukankah haji itu bagi yang mampu? Yuppe lah, namun bagi kami, makna dari yang mampu adalah kewajiban bagi umat muslim untuk berjuang sekuat tenaga agar mampu secara fisik dan ekonomi menunaikan ibadah haji.

Lha kalo sebagai umat cuma duduk metongkrong [kaya saya sekarang ini :D] darimana bakal mampu?

Resolusi lain yang harus terlaksana tahun ini?
ah, saya butuh 1 hari

Kamis, 27 Januari 2011

Cara Makan Batita Qu

Januari 2011 ini, batita 2 tahunku [kurang 4 bulan] mempunyai pola makan yang belum teratur. Sebenarnya sudah pasti itu alah saya, ibunya. Kekurangan saya adalah belum mampu mendisiplinkan diri untuk menyuapinya tepat waktu.

Kendala lain adalah saya tak tega membangunkan aak dari tidurnya, apabila mbangkong alias bangun kesiangan. Walhasil, sarapan menjadi tertunda. Efeknya berantai. Karena sarapan pagi tertunda, begitu pula makan siang dan malam.

Jika ingin berubah, maka sayalah yang harus berubah terlebih dahulu.

Anakku tumbuh sehat dengan berat badan antara 10,2 hingga 11 kg. Masih naik turun. Kenapa? karena kadangkala nafsu makannya turun drastis. atau karena bepergian, membuatnya malas makan.

Perkara nafs makan yang naik turun itu, saya akali dengan selalu membuatkan agar-agar susu dan penthol ikan/ daging untuk disimpan. Sehingga jika sedang malas makan nasi, itulah camilannya. Setidaknya, dia makn makanan bersih, sehat. Oh tidak, saya tidak ingin anak saya tidak makan nasi dan menggantinya dengan jajanan ringan 500-an itu. Kita tak tahu bukan dari bahan macam apa, jajanan itu diproduksi.

Senin, 27 Desember 2010

My Blog

Awalnya blog ini saya buat untuk mengisi waktu, mengarsip ilmu bertebaran, sekalian peluang. Akan tetapi yang terakhir, saya tak begitu menginginkannya lagi. It's not my priority to become a very rich woman. No, Im not interest in. I love my life, my simple life. And I state that, treasure is will not be my destination. But Allah.

Saya pikir saya musti lebih lurus.
Tentunya tidak bersalah  mereka yang sangat kaya, tentunya dengan cara yang halal.

Sedangkan halal itu, haruslah hasan atau baik. Tidak membunuh orang lainnya. Pernahkan anda dengar orang berjualan penuh rayuan memanja, namun jualannya tidaklah semanis gombalannya.

Ah, saya tidak bisa seperti itu.

Sedangkan tujuan mengisi waktu, it's work. Ada yang berjalan diatas relnya. Saya ingin sekali mengarsip kesehatan anak saya sendiri, untuk bisa saya pelajari kemudian hari.

Rabu, 08 Desember 2010

Astaga Desember!

Oh My God!

Saya melewatkan Nopember ceria, tanpa posting satu biji pun. Tuhan, maafkan saya!

Padahal sudah bertekad bulad, semalas apapun, selebay apapun saya musti posting. Hahaha..
Moms semua, saya menyibukkan diri dengan beberapa hal di Nopember ini. Apakah itu, ikut tes CPNS. Hahahaha

Saya ingin tertawa, dan moms semua juga boleh ikut tertawa atau menertawakan saya. Bagaimana tidak? Bukankah beberapa saat lalu, saya posting keinginan saa untuk menjadi pengusaha? Sebuah profesi yang menurut saya paling ramah untuk anak-anak. Bahkan hingga saat ini.

Hingga sekarang setelah saya dinyatakan DITERIMA sebagai CPNS KPU.

Selamat untuk saya. Antara senang dan tertawa. Karena memang saya, sungguh berusaha keras dengan belajar tes CPNS. Karena KPU, maka saya belajar tentang Pemilu, melalui berita dan juga UU yang terkait dengannya. Tak kurang 500 halaman saya pelajari demi keberhasilan ini.

Lalu bagaimana nasib cita-cita menjadi pengusaha?
Hmmm.... mungkinkah saya akan menjadi amphibi??

Minggu, 24 Oktober 2010

Melahirkan dan Perasaanku

Pagi itu, 9 Mei 2009, jam 5.30 WIB. Tatkala Ujank -panggilan sayang untuk suamiku- masih lelap, lelap sekali dalam tidurnya. Memang 2 jam sebelumnya, ia baru sampai rumah. Sedangkan perjalanannya dari Surabaya hari itu, masih harus pula menyetir mobil Pak Sindhu. Rekan kerjanya di Adhi Karya Kontraktor. Tentu saja capek. Love U suamiku.


Aku terbangun. Karena kurasakan ada air yang mengalir pelan-pelan dari dalam perutku melalui saluran kencing. Hangat. Ya, air itu terasa hangat membasahi celana dalam. But, hey aku tak mungkin ngompol kan? ini air apa? tanyaku dalam hati. Kenapa merembes pelan? masih bertanya-tanya.

Pelan-pelan aku bangun dan sadar belum sholat subuh. Kulangkahkan kakiku pelan menuju tempat wudlu.
Perutku semakin berat rasanya. Ini bukan keluhan. Perutku memang terasa didesak dari dalam. Bayi yang kukandung seakan-akan mau jatuh, tepatnya orang Jawa bilang koyo arep ceblok. Sampai-sampai aku benar-benar merasa perlu untuk memegangi perutku dan melindungi isinya. Setidaknya, semacam itulah rasanya, jika kau mau tahu sejujurnya. Memang sudah 9 bulan. dan hari itu, 2 minggu sebelum hari H berdasar perkiraan dokter obginku, dr. Bambang dan bidanku Bu Har Sunu.

Sehabis subuh kutunaikan. Kucoba membangunkan Ujank. Ya, dia baru saja sampai. Dan konsentrasi menyetir selama 4 jam pasti menguras energinya dan memaksa matanya untuk tertutup saja enggan terpapar sinar. Sulit bangun, sulit sekali dibangunkan. Tapi bagaimanapun harus bangun. Subuh tak bisa ditunda.

Sementara perutku terus terasa aneh. Aku tidak tahu, rasanya seperti membengkak. Memang sudah bengkak karena hamil 9 bulan. Tapi ini begitu aneh. Benar-benar terasa padat, memadat. Terasa bengkak, membengkak. Terasa penuh sekali. Keras, dan ah bagaimana lagi aku harus merinci gambarannya.

Padamu perempuan, kau akan tahu sendiri rasanya nanti. Tapi padamu para pria, ah kalian tak akan pernah tahu. Jangan pernah. Tapi mungkin kalian benar-benar ingin tahu ya? Aku kasihan sekali pada kalian. Kusuguhkan untuk kalian, agar kalian tahu bagaimana menghormati para perempuan.

Dalam usahaku membangunkan suamiku, Apri alias Ujank, air hangat masih terus mengalir. Seakan-akan mengingatkanku akan sesuatu yang lain terjadi pada tubuhku. Sempat tadi kulihat air hangat itu berwarna bening tetapi ada sedikit kotoran bersamanya. Ujank masih juga belum bangun, meski telah kugoncang-goncang tubuhnya. Aku mulai takut terlalu siang, hingga tanpa sadar aku menggertaknya keras.

"Ujaaank! Bangun!"

Sontak, bibir vaginaku seakan tersendul sesuatu. Darah mengalir pelan. Sedikit menetes mengenai betisku.
Ah darah itu begitu merah. Apakah waktunya melahirkan?

Kontan aku berteriak, "Ujank cepat bangun, sholat dan segeralah antar aku. Anak kita mau lahir. Cepaaaat"
[Belakangan jika kuingat, kok masih ada tenaga ya buat teriak... ^_^]
Begitu kagetnya dengan teriakanku. Mungkin juga karena kandungan kalimatnya. Ujank bangun segera.

Jam sudah menunjuk ke angka 6.30 pagi ketika kami akhirnya berangkat ke Bidan Har Sunu, salah satu bidan delima dikota kecilku, Trenggalek. Pikiranku sudah kacau sekali. Aku tak tahu hari H akan maju 2 minggu. Bahkan aku tak membawa perbekalan apapun. Hanya membawa baju dibadan. Bahka sebelumnya akupun bingung hendak kubawa kemana proses melahirkan ini. Rumah Sakit? Puskesmas? Bidan? Perutku sudah tak lagi membutuhkan pemikiran begitu dalam. Bayiku sudah tergesa hendak melihat dunia.

Beruntung rupanya diriku, Ujank begitu sigap mengeluarkan kijang 95 dari kandangnya melewati gang kecil dirumahku menuju Bidan Har. Begitu tenang kijang 95 itu menggelinding. Tetapi siapa sangka dibalik kijang 95 yang meskipun kusam banyak goresan, namun masih tampak kokoh itu, aku meronta, meringis-ringis, mengaduh (bukan mengeluh), mencoba menahan sakit yang teramat.

Sungguh, seperti mau pipis, jika kalian ingin tahu, mau be-ol, tetapi sesuatu yang perlu dikeluarkan itu benda yang amat besar. Berlipat besarnya dibanding tinja yang kita keluarkan. Ya berlipat. Tinja kita mungkin hanya sebesar pisang ambon. Tapi ini bayi 3 kg. Oh bukan, kuketahui kemudian bayiku keluar dengan berat 3,75 kg. Berapa berat maksilmal tinjamu? Dan lagi ini keluar melalui bibir vagina. Bukan lubang dubur.

10 menit perjalanan yang kami butuhkan untuk menuju Bidan Delima Suhartini Sunu. Lebih terkenal dengan sebutan Bu Sunu. Sesampainya disana. Aku masih harus menunggu. Tentu saja, karena mendadak, Bu Sunu belum menyiapkan satu alatpun. Tentu Saja. Dan kalian tentu tahu apa artinya itu bagiku. Oh bagi perutku yang berisi bayi 3,75 kg yang tak sabar untuk segera keluar dari ruang yang tak lagi luas. Dan sangat mungkin mulai ketakutan dengan semakin berkurangnya air ketuban yang hangat membungkusnya dan memberinya oksigen untuk dihirup.

Sungguh mulas. Mulas sekali rasa perutku. Mulas yang amat sangat. Pasti lebih daripada apa yang dirasakan saat kaum perempuan sedang mendapatkan tamu bulanannya. Ini jauh sekali. Karena itu, hormatilah ibumu. Sungguh saat itu, aku benar-benar teringat ibu. Dan aku menangis, bukan karena sakit yang amat sangat, melainkan teringat perjuangan ibuku dulu. Beginikah? Ah, aku lupa. Tentu yang dirasakan ibu lebih dahsyat. Bukankah menjelang aku dilahirkan, bapakku sedang dalam kondisi sakit. Beliau sakit patah kaki akibat kecelakaan motor kala itu. Sedang aku kini, merasakan detik-detik kelahiran anak pertamaku dengan ditemani suami tersayang.

Aku terus-menerus mengucap istighfar, tasbih, takbir. Bergantian. Kadang dengan suara pelan, kadang keras menjerit, jika aku kaget dengan sundulan bayiku. Dia benar-benar merangsek. Memaksa sekali. Jika dibahasakan, mungkin dia akan berteriak, "Keluarkan aku, air ketubanmu mulai habis ibuk!"

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Pekikku kaget. Ya Allaahh.. Ya Allaah..
Pintu belum juga dibuka, sejak ibuku memencet bel7 menit yang lalu. Aku duduk menunggu di kursi rotan berbantal spon yang seharusnya empuk di teras rumah Bu Sunu. Kursi itu sama sekali tak nyaman. Bagaimana bisa nyaman, jika duduk dalam keadaan kebelet? Aku hanya bisa meletakkan ujung pantat di ujung kursi. Bayiku akan berontak jika kududukkan di kursi.

Akhirnya, pintu pun terbuka. Aku sudah melihat ruang persalinan Sang Bidan sebelumnya. Aku mau cepat-cepat sampai ranjang melahirkan. Sungguh pegal punggungku, rasanya tak mampu lagi berdiri. Aku harus tahan. Dengan terengah-engah sedikit, sambil dipapah Ujank, aku berjalan menyusuri koridor pendek menuju ruang bersalin.

"Naik ranjang Mbak. Sini, kakinya disini", kata Sang Bidan.
"Lhoooh!, lha kepalanya sudah kelihatan? Wah, sek, tunggu, lha alatnya belum disterilkan!", teriaknya lagi.

"Uhuhuhuhu..Bayiku anak baik, bersabarlah", doaku dalam hati. Jangan bayangkan fisikku tenang. Meski berusaha keren dengan tetap cool, imut, dan menarik, tentu saja segala upaya itu tak berbuah. Aku berteriak sekali-kali. Ya ya ya. Yang benar berkali-kali. Jangan kau gurui aku. Tentu saja aku ingin melahirkan dengan ekspresi manis dan senyum bak ratu kecantikan sejagad raya sedang jalan di catwalk.

Tapi melahirkan, memang sakit sekali. Untuk diingat, ada makhluk hidup imut yang ingin keluar melalui lubang vagina sebesar 3,75 kg. Panjangnya sekitar 51cm. Anda semua bisa bayangkan itu.

"Sek, tahan ya...", kata Bidan lagi, coba memperingatkan aku.
"Tahan? bagaimana, sudah tak bisa, mau keluar dia"lirihku.
"iya, wes siap. Ngeden kuat ya?" mulai.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt *******sensor*********

Prosesnya cukup panjang.
Setidaknya dari masuk ruang bersalin jam 6.30 WIB. Bayiku akhirnya keluar tepat jam 7.00 WIB.
Suamiku Ujank sayang dan Ibuku berjasa sekali menjadi tempatku bersandar dan menghisap kekuatan melalui pegangan tangan penuh kasih.
Bayi mungil, yang kemudian kami namai Farros Abiy Maulana itu lahir dengan normal dan selamat.
Semoga menjadi anak sholeh yang cerdas, pintar, kreatif, tampan.

Semoga Rahmat Allah selalu menyertai kami sekeluarga dan semua umat muslim muslimin sedunia. Aaamiiin.....

Rabu, 13 Oktober 2010

Perlengkapan Ibu Melahirkan

Rasa-rasanya ada yang kurang dalam postingku. Ada Perlengkapan Bayi Baru Lahir tapi kok tak ada daftar perlengkapan ibu melahirkan. Ya sudah, sekalian sebagai pengingat untuk kehamilan kedua nanti. Kapan?

Karena saya minim sekali info soal ini. Tidak terpikir sama sekali bahkan. Jadi langsung saja ya. Saya tuliskan ceklisnya

  1. Pembalut khusus nifas. Darah nifas kita akan sangat banyak.
  2. Stagen. Perlunya untuk menyangga perut. Pengalaman saya, kalau tidak pakai, perut serasa mau jatuh. 
  3. Bra menyusui. Tidak harus bra khusus menyusui, karena saya pernah beli, namun malah kerepotan. Anda bisa memilih sendiri yang sesuai. Tapi bagi saya, yang nyaman adalah sport bra. Tinggal tarik, tapi tetep kenceng.
  4. Kaos menyusui. Sekarang mulai banyak tuh mam. Cek di toko ini ya. atau yang ini
  5. Breast Pads. Benda apa nih? Saya yang jadul mam, karena awalnya tak tahu. Jadi semacam busa untuk menahan ASI yang selalu menetes. Awal-awal menyusui, ASI kita biasanya akan sangat banyak sampai menetes. Kan jadi basah...
  6. apalagi yah, mikir dulu....
 Silakan donk, ditambahin........
Thanks yaaahhhh

Selasa, 12 Oktober 2010

Setiap Hari Belajar

Begitulah! 
Saya bersyukur kehadirat Allah. Meskipun dengan ekonomi sedang, maksudnya penghasilan keluarga ditopang satu orang [ayah sayang, yang seorang PNS] tapi ayah, dengan senang hati berlangganan internet untuk saya. 

Love u pa..

Sangat menyenangkan. Disaat buku mahal, koran mahal [bagi ukuran ekonomi kami], tapi informasi harus sebisa mungkin update! Maka internet adalah jawaban yang paling memuaskan. Memberi lebih dari yang diharapkan. Harganya pun tak lagi mahal. 

Dengan internet, saya bisa belajar tiap hari. Tentang apa saja. 

Mau masak, buka internet.
Mau bermain dengan Abiy, buka internet.
Mau dicurhatin ibu, buka internet.

Semua saya cari referensi dan studi kasus yang dicurahkan orang lain. Kita tinggal mengolahnya dengan pertimbangan akal pikiran. 

Dan saat ini, sudah lama juga sih, bayak orang cari uang, pakai internet. Tapi hati-hati ya, kalau ada yang nawarin yang instan dan otomatis. Hihihi...

Sabtu, 02 Oktober 2010

Me & Hubby

Ragu2 awalnya ketika mau nulis, tetapi semoga bisa jadi arena contek-contekan seluruh anak muda. [tua donk diriku, hixx]

Well, saya dan suami pacaran setahun sebelum menikah. Sebenarnya, malu mengatakannya. Secara, dalam pemahaman saya akan Islam, pacaran tidaklah diperbolehkan. Bapak saya yang moderat pun menyatakan, apa manfaat pacaran? saat saya iiseng bertanya, "Pak aku boleh punya pacar?".

Kok nekat juga pacaran. Saya pikir saat itu, toh kami jarak jauh. Bukan dalam arti sebenarnya, karena de factonya, kami hanya sejauh Unair - ITS. Dekat!

Tetapi kesibukan masing-masing membuat kami hanya bertemu seminggu sekali. Ketika sedang nyantai pun, saya dan dia pilih pergi dengan teman masing-masing. Atau pergi bareng tapi dengan teman sedaerah. Rame-rame lebih seru...

Maklum newbie saat itu di dunia perpacaran. Kami sama-sama belum pernah pacaran. Jadi sama-sama masih virgin. heehee.

Kan ada HP?
Iya, memang ada HP. Tapi saat itu, kami juga jarang kirim-kirim sms. Padahal sudah cukup murah pulsanya. Apalagi vendor telekomunikasinya sama. Dilarang ngiklan nih!

Kenapa? untuk meminimalkan efek samping. Semua tahu dong, jika sedang jatuh cinta, dimana-mana ada wajahnya. kapan saja teringat dia. Buat saya itu efek. Agar hati tak terkotori terlalu dalam. Yang ikhwah boleh protes nih.

Ada satu syarat yang saya kenakan pada pacar saya saat itu? Saya mau terikat, tetapi atas ijin orangtuamu. Dan pernyataan kesedian orang tua pacar, untuk menerima saya sebagai calon istri. Karena saya tidak mau, pacaran tanpa tujuan, hanya untuk senang-senang. Ah, mungkin saya terlalu serius. Bagaimana pendapatmu adek-adek?

2 Tahun Pernikahanku

Weww, Abiyku sekarang sudah 1 tahun 4 bulan. It means perkawinan, wooo, pernikahanku sudah 2 tahun. Karena alhamdulillah, aku , tepatnya kami [donk], langsung dikaruniai anak begitu menikah [2 bulan saja tanpa penantian, hehehe].


Masih seumur jagung yah..


Papa apa nggak papa ya, pingin banget rasanya nulis sesuatu yang terjadi dalam keluarga kecilku. Kalau jadi kutuliskan, semoga membawa manfaat bagi semua.


Aku, saat menulis ini, masih memilih jadi ibu rumah tangga. Not full, cause I'm assisted by an attendant. O no no. Im not call her as an attendant. I prefer to call her as personal assistant. I don't know. I think it sound better. Isn't it?


Bagaimana kehidupan kami? so far so good. hihihihi...
He treats me well. Feed us well, playful, although very busy at the office, but never came home with annoyed face.


Love him so much.


Did he ever do wrong? ya tentulah. Eits.. Hati-hati. Jangan terjebak. Seringkali kita berpikir bahwa pasangan telah bersalah pada kita. Tetapi jika mau direnungkan kembali. Mungkin itu hanyalah kesalahpahaman. Sebagai akibat perbedaan kultur, misalnya. Bagaimanapun kita dan pasangan berasal dari keluarga yang berbeda. Bukan begitu? 


Tunggu cerita mamapapa abiy berikutnya. Saya akan cerita apa saja masalah keluarga muda. Dan bagaimana tips dan trik mengatasinya.


But, whatever, dealing always with a smile.

Abiy sudah bisa NGOMONG

Akhirnya setelah 16 bulan umurnya, bisa juga Abiy ngomong. Tentu saja deg-degan selama masa penantian. Tapi tak pernah terucap, agar tak menjadi doa buruk Sang Ibu bagi anaknya. Sabar.

Buahnya manis sekali. Sekarang Abiy bisa mengucap apa saja yang didengarnya. Kalau dulu mengucap kata mbah bisa, namun seperti tanpa makna. Hanya gumaman seorang bayi yang belajar berkata.


Apakah kata awalnya? glugu!
ya glugu. Sebutan untuk kayu pohon kelapa. Saat itu, ada tetangga, Om Hendra sedang menata kayu-kayu glugu di rumahnya. Begitu dikatakan, "Iki glugu le, jenenge glugu". Abiy ketawa, hahahha gu gu. Sampai dirumahpun, rupanya dia masih terngiang-ngiang, gu gu. Begitu terus.

Selanjutnya, apa saja ditirukan. Dan sekarang, saya telah tak mampu lagi menghitung kosakata barunya. mandi, ceblok, jatuh, cicak, kuda, sapi, kucing, maem, minum, susu, uti, ayah, ibuk.

It is amazing mom. Denger anak ngomong dengan cedal-cedalnya itu. hmm menakjubkan...
Bgaimana beibi Anda. Semoga selalu yang terbaik yah...
 

Hepimam | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL