Minggu, 24 Oktober 2010

Melahirkan dan Perasaanku

Pagi itu, 9 Mei 2009, jam 5.30 WIB. Tatkala Ujank -panggilan sayang untuk suamiku- masih lelap, lelap sekali dalam tidurnya. Memang 2 jam sebelumnya, ia baru sampai rumah. Sedangkan perjalanannya dari Surabaya hari itu, masih harus pula menyetir mobil Pak Sindhu. Rekan kerjanya di Adhi Karya Kontraktor. Tentu saja capek. Love U suamiku.


Aku terbangun. Karena kurasakan ada air yang mengalir pelan-pelan dari dalam perutku melalui saluran kencing. Hangat. Ya, air itu terasa hangat membasahi celana dalam. But, hey aku tak mungkin ngompol kan? ini air apa? tanyaku dalam hati. Kenapa merembes pelan? masih bertanya-tanya.

Pelan-pelan aku bangun dan sadar belum sholat subuh. Kulangkahkan kakiku pelan menuju tempat wudlu.
Perutku semakin berat rasanya. Ini bukan keluhan. Perutku memang terasa didesak dari dalam. Bayi yang kukandung seakan-akan mau jatuh, tepatnya orang Jawa bilang koyo arep ceblok. Sampai-sampai aku benar-benar merasa perlu untuk memegangi perutku dan melindungi isinya. Setidaknya, semacam itulah rasanya, jika kau mau tahu sejujurnya. Memang sudah 9 bulan. dan hari itu, 2 minggu sebelum hari H berdasar perkiraan dokter obginku, dr. Bambang dan bidanku Bu Har Sunu.

Sehabis subuh kutunaikan. Kucoba membangunkan Ujank. Ya, dia baru saja sampai. Dan konsentrasi menyetir selama 4 jam pasti menguras energinya dan memaksa matanya untuk tertutup saja enggan terpapar sinar. Sulit bangun, sulit sekali dibangunkan. Tapi bagaimanapun harus bangun. Subuh tak bisa ditunda.

Sementara perutku terus terasa aneh. Aku tidak tahu, rasanya seperti membengkak. Memang sudah bengkak karena hamil 9 bulan. Tapi ini begitu aneh. Benar-benar terasa padat, memadat. Terasa bengkak, membengkak. Terasa penuh sekali. Keras, dan ah bagaimana lagi aku harus merinci gambarannya.

Padamu perempuan, kau akan tahu sendiri rasanya nanti. Tapi padamu para pria, ah kalian tak akan pernah tahu. Jangan pernah. Tapi mungkin kalian benar-benar ingin tahu ya? Aku kasihan sekali pada kalian. Kusuguhkan untuk kalian, agar kalian tahu bagaimana menghormati para perempuan.

Dalam usahaku membangunkan suamiku, Apri alias Ujank, air hangat masih terus mengalir. Seakan-akan mengingatkanku akan sesuatu yang lain terjadi pada tubuhku. Sempat tadi kulihat air hangat itu berwarna bening tetapi ada sedikit kotoran bersamanya. Ujank masih juga belum bangun, meski telah kugoncang-goncang tubuhnya. Aku mulai takut terlalu siang, hingga tanpa sadar aku menggertaknya keras.

"Ujaaank! Bangun!"

Sontak, bibir vaginaku seakan tersendul sesuatu. Darah mengalir pelan. Sedikit menetes mengenai betisku.
Ah darah itu begitu merah. Apakah waktunya melahirkan?

Kontan aku berteriak, "Ujank cepat bangun, sholat dan segeralah antar aku. Anak kita mau lahir. Cepaaaat"
[Belakangan jika kuingat, kok masih ada tenaga ya buat teriak... ^_^]
Begitu kagetnya dengan teriakanku. Mungkin juga karena kandungan kalimatnya. Ujank bangun segera.

Jam sudah menunjuk ke angka 6.30 pagi ketika kami akhirnya berangkat ke Bidan Har Sunu, salah satu bidan delima dikota kecilku, Trenggalek. Pikiranku sudah kacau sekali. Aku tak tahu hari H akan maju 2 minggu. Bahkan aku tak membawa perbekalan apapun. Hanya membawa baju dibadan. Bahka sebelumnya akupun bingung hendak kubawa kemana proses melahirkan ini. Rumah Sakit? Puskesmas? Bidan? Perutku sudah tak lagi membutuhkan pemikiran begitu dalam. Bayiku sudah tergesa hendak melihat dunia.

Beruntung rupanya diriku, Ujank begitu sigap mengeluarkan kijang 95 dari kandangnya melewati gang kecil dirumahku menuju Bidan Har. Begitu tenang kijang 95 itu menggelinding. Tetapi siapa sangka dibalik kijang 95 yang meskipun kusam banyak goresan, namun masih tampak kokoh itu, aku meronta, meringis-ringis, mengaduh (bukan mengeluh), mencoba menahan sakit yang teramat.

Sungguh, seperti mau pipis, jika kalian ingin tahu, mau be-ol, tetapi sesuatu yang perlu dikeluarkan itu benda yang amat besar. Berlipat besarnya dibanding tinja yang kita keluarkan. Ya berlipat. Tinja kita mungkin hanya sebesar pisang ambon. Tapi ini bayi 3 kg. Oh bukan, kuketahui kemudian bayiku keluar dengan berat 3,75 kg. Berapa berat maksilmal tinjamu? Dan lagi ini keluar melalui bibir vagina. Bukan lubang dubur.

10 menit perjalanan yang kami butuhkan untuk menuju Bidan Delima Suhartini Sunu. Lebih terkenal dengan sebutan Bu Sunu. Sesampainya disana. Aku masih harus menunggu. Tentu saja, karena mendadak, Bu Sunu belum menyiapkan satu alatpun. Tentu Saja. Dan kalian tentu tahu apa artinya itu bagiku. Oh bagi perutku yang berisi bayi 3,75 kg yang tak sabar untuk segera keluar dari ruang yang tak lagi luas. Dan sangat mungkin mulai ketakutan dengan semakin berkurangnya air ketuban yang hangat membungkusnya dan memberinya oksigen untuk dihirup.

Sungguh mulas. Mulas sekali rasa perutku. Mulas yang amat sangat. Pasti lebih daripada apa yang dirasakan saat kaum perempuan sedang mendapatkan tamu bulanannya. Ini jauh sekali. Karena itu, hormatilah ibumu. Sungguh saat itu, aku benar-benar teringat ibu. Dan aku menangis, bukan karena sakit yang amat sangat, melainkan teringat perjuangan ibuku dulu. Beginikah? Ah, aku lupa. Tentu yang dirasakan ibu lebih dahsyat. Bukankah menjelang aku dilahirkan, bapakku sedang dalam kondisi sakit. Beliau sakit patah kaki akibat kecelakaan motor kala itu. Sedang aku kini, merasakan detik-detik kelahiran anak pertamaku dengan ditemani suami tersayang.

Aku terus-menerus mengucap istighfar, tasbih, takbir. Bergantian. Kadang dengan suara pelan, kadang keras menjerit, jika aku kaget dengan sundulan bayiku. Dia benar-benar merangsek. Memaksa sekali. Jika dibahasakan, mungkin dia akan berteriak, "Keluarkan aku, air ketubanmu mulai habis ibuk!"

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Pekikku kaget. Ya Allaahh.. Ya Allaah..
Pintu belum juga dibuka, sejak ibuku memencet bel7 menit yang lalu. Aku duduk menunggu di kursi rotan berbantal spon yang seharusnya empuk di teras rumah Bu Sunu. Kursi itu sama sekali tak nyaman. Bagaimana bisa nyaman, jika duduk dalam keadaan kebelet? Aku hanya bisa meletakkan ujung pantat di ujung kursi. Bayiku akan berontak jika kududukkan di kursi.

Akhirnya, pintu pun terbuka. Aku sudah melihat ruang persalinan Sang Bidan sebelumnya. Aku mau cepat-cepat sampai ranjang melahirkan. Sungguh pegal punggungku, rasanya tak mampu lagi berdiri. Aku harus tahan. Dengan terengah-engah sedikit, sambil dipapah Ujank, aku berjalan menyusuri koridor pendek menuju ruang bersalin.

"Naik ranjang Mbak. Sini, kakinya disini", kata Sang Bidan.
"Lhoooh!, lha kepalanya sudah kelihatan? Wah, sek, tunggu, lha alatnya belum disterilkan!", teriaknya lagi.

"Uhuhuhuhu..Bayiku anak baik, bersabarlah", doaku dalam hati. Jangan bayangkan fisikku tenang. Meski berusaha keren dengan tetap cool, imut, dan menarik, tentu saja segala upaya itu tak berbuah. Aku berteriak sekali-kali. Ya ya ya. Yang benar berkali-kali. Jangan kau gurui aku. Tentu saja aku ingin melahirkan dengan ekspresi manis dan senyum bak ratu kecantikan sejagad raya sedang jalan di catwalk.

Tapi melahirkan, memang sakit sekali. Untuk diingat, ada makhluk hidup imut yang ingin keluar melalui lubang vagina sebesar 3,75 kg. Panjangnya sekitar 51cm. Anda semua bisa bayangkan itu.

"Sek, tahan ya...", kata Bidan lagi, coba memperingatkan aku.
"Tahan? bagaimana, sudah tak bisa, mau keluar dia"lirihku.
"iya, wes siap. Ngeden kuat ya?" mulai.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt *******sensor*********

Prosesnya cukup panjang.
Setidaknya dari masuk ruang bersalin jam 6.30 WIB. Bayiku akhirnya keluar tepat jam 7.00 WIB.
Suamiku Ujank sayang dan Ibuku berjasa sekali menjadi tempatku bersandar dan menghisap kekuatan melalui pegangan tangan penuh kasih.
Bayi mungil, yang kemudian kami namai Farros Abiy Maulana itu lahir dengan normal dan selamat.
Semoga menjadi anak sholeh yang cerdas, pintar, kreatif, tampan.

Semoga Rahmat Allah selalu menyertai kami sekeluarga dan semua umat muslim muslimin sedunia. Aaamiiin.....

2 comments:

Lia Wijayanti mengatakan...

hmm.......sungguh cerita yg mengharu biru, membuatku teringat kembali ke masa dimana kita mempunyai pengalaman yg sama "melahirkan"......

setiap wanita yg melahirkan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri....tapi ceritamu sungguh apik kau kemas membuatku berkaca kaca membacanya seakan ikut merasakan apa yg terjadi

hiihihihi.......guesokpuitis.com

yuyun depe mengatakan...

kok berkaca-kaca mbak? hehehe, saya nulisnya sambil sbel-sebel gitu. hihihi....
hooh, sok putis ah, mbak lia...
makasih ya udah mampir

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Hepimam | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL