Sabtu, 01 Mei 2010

Yuk, Kenali Susu Lebih Jauh


Yuhuuu, susu. Yup, dari tuwa apalagi muda pasti doyan sama yang namanya susu. Ga pasti dink. Tapi banyak banget. Inilah akibat berhasilnya program 4 sehat 5 sempurna. Selain rasanya yang yummie, gizinya juga TOP banged.

Konon, susu adalah satu-satunya zat di alam ini yang fungsi utamanya adalah murni sebagai makanan.  Uniknya, semua mamalia, manusia, ikan paus, sapi, kucing, kambing, kuda, monyet, apalagi yak? hehe.. Iya, semua  [tersetel oleh The Creator] memproduksi susu terutama untuk kebutuhan makan anak-anaknya.  Hii, so sweet..

Nah, susu yang dihasilkan oleh seorang ibu [manusia donk] tentunya hanya dikonsumsi para bayi. Lhah, yang dewasa tidak kebagian. Karenanya, kira-kira 6000 sampai 8000 SM yang lalu  manusia mulai menjinakkan beberapa jenis mamalia, seperti sapi, kerbau, kambing dan unta, untuk diperah susunya.  Namun, hingga saat ini, susu yang paling umum dikonsumsi manusia khususnya anak-anak dan dewasa adalah susu sapi.


Kandungan utama susu [lebih dari 80%] adalah air.  Selain air tersebut, didalam susu  terkandung zat-zat gizi utama, seperti karbohidrat (laktosa), protein, lemak, vitamin dan mineral.

Ini yang bikin susu makin favorit dari hari ke hari. Kalsium. Ya, susu adalah sumber terbaik untuk kalsium, yang sangat penting bagi perkembangan tulang pada anak-anak, maupun untuk menjaga kepadatan tulang pada orang dewasa.


Selain kalsium, susu juga kaya akan mineral-mineral lain, seperti potassium [kalium] klor, fosfor, sodium [natrium], sulphur dan magnesium.  Kandungan trace mineral [mineral yang keberadaannya kecil sekali] lainnya, seperti zat besi juga sangat tinggi. aih-aih..  Vitamin yang ada dalam susu pun sangatlah lengkap, mulai dari vitamin A, D, E, K, B kompleks  [B1, B2, B6, B12], dan C. 

Sekarang timbul pikiran, berapa banyak ya sebaiknya anak usia balita mengkonsumsi susu?  Bimbo neh.. [Bimbang Bo].


Dari sebuah site http://www.ibudananak.com, aku mengerti bahwa meskipun penting, tapi susu bukan lah yang utama.  Bagi anak-anak berusia di atas 1 tahun, sumber utama gizi adalah makanan padat, bukan susu. 

Fungsi susu hanya sebagai tambahan asupan gizi.  “ 2 sampai 3 gelas susu per hari sudah cukup untuk memberikan tambahan nutrisi “, jelas Nunung Nurjanah, SP., ahli gizi dari Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor.    Terlalu banyak mengkonsumsi susu malah membuat anak (semakin) sulit makan.   Karena perutnya sudah kenyang lebih dulu dengan susu, anak menjadi malas untuk makan, tambah Nunung lagi. [ini nih, ponakanku sulit makan, banyakin sus sih]

Pada prinsipnya untuk anak usia di atas 1 tahun, nutrisi utama yang diambil dari susu adalah kalsiumnya, sedangkan zat gizi lain harus dari sumber utamanya.

Seperti serealia berikut produk turunannya (mi, roti) dan umbi-umbian untuk karbohidrat, hewani (telur, daging, unggas, ikan) untuk protein dan lemak, kedelai dan produk turunannya (tahu, tempe) untuk protein nabati, sayur dan buah-buahan untuk vitamin dan mineral.

Lalu susu apa donk yang bagus untuk anak [juga untuk diri sendiri]?

Susu Bubuk atau Susu Cairkah?
Hal lain yang juga sering menjadi bahan diskusi orangtua adalah susu apa sih yang paling baik untuk anak-anak?  Atau mana yang lebih baik, susu cair atau susu bubuk? Jawabannya tergantung dari kesukaan anak dan nilai tambah apa yang ingin orangtua peroleh.    

Susu bubuk memiliki daya simpan yang jauh lebih lama dari susu cair, bahkan bisa mencapai 1 tahun, dan tidak perlu disimpan dalam lemari es.  Itu kelebihannya. Dan itu  karena susu bubuk telah melalui tahapan proses yang cukup panjang.  Antara lain evaporasi, homogenisasi dan pengeringan [spray drying atau freeze drying]. Tetapi akibatnya kandungan nilai gizi yang terdapat dalam susu bubuk jadi lebih rendah dari susu cair segar.  Itulah mengapa seringkali susu bubuk ditambahi dengan bahan-bahan lain, misalnya vitamin. Lebih sebagai usaha  ‘mengembalikan’ nilai gizinya agar menyamai gizi susu cair segar.

Susu cair yang banyak dijumpai di pasaran, umumnya adalah susu pasteurisasi dan susu UHT.  Kedua jenis susu cair ini telah melalui proses pengawetan untuk memperpanjang umur simpannya.  Tapi perlakuan untuk pengawetan tersebut hanya melibatkan panas dan tidak ada zat pengawet, sehingga susu yang telah melalui proses tersebut masih tergolong ‘fresh’.  Artinya, nilai gizi susu pasteurisasi maupun susu UHT relatif masih asli.  Kalaupun ada penurunan, perbedaannya dengan nilai gizi dari susu cair mentah tidak signifikan. 

Yang harus diingat, susu cair tidak untuk konsumsi anak atau bayi berusia di bawah 1 tahun.  Mengapa? hal ini karena, menurut Nunung, kasein yang merupakan protein utama pada susu sapi masih sulit dicerna oleh system pencernaan bayi atau anak dibawah 1 tahun. 

Selain itu, kasein membuat pencernaan anak bekerja ekstra keras dan kemudian mempengaruhi kerja ginjal pula.  [hikz kasian ginjalnya si bebi]. Setelah berusia 1 tahun, baru bebi boleh deh susu cair.  Pada usia ini bebi juga sudah bisa kan makan makanan kita  mom (table food istilahnye). Biar sumber asupan gizinya lebih bervariasi.

Kalau mau ngasih susu cair [saya pilih ini nih, murah dan lebih bagus] pilih rasa  plain ajah.  Kan emang yang paling aman. Asli susu gitu, tanpa tambah gula atau malah perasa.  Jangan juga pilih susu cair rendah lemak (skim milk) buat bebi 1-2 tahun. 

Coz, susu rendah lemak cenderung berprotein, potassium dan sodium yang lebih tinggi,  while kalorinya kurang moms untuk menyokong pertumbuhan anak diusia itu.  Belum waktunya diet. Masih butuh lemak  donk untuk otak dan fisiknya.  

Susu Perlu Diawetkan
Susu termasuk jenis makanan yang perishable alias mudah rusak.  Ini karena,  kandungan zat gizi yang tinggi dan lengkap didalamnya, menjadikannya medium yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. 

Sama kayak ASI, susu yang berasal dari sapi yang sehat pada dasarnya relatif steril.  Maksudnya, memang benar terdapat bakteri dalam susu, tetapi kandungannya rendah (kurang dari 1000/ml) dan sebagian besar dari bakteri tersebut bukan jenis yang merugikan, sehingga dianggap tidak signifikan untuk membahayakan kesehatan. 

Akan tetapi, begitu susu keluar dari  apa ya itunya  sapi [payudara?] susu (hasil perah) sangat berpeluang terkontaminasi beraneka bakteri jahat.  Bakteri-bakteri itu meliputi bakteri yang dapat merusak susu maupun bakteri yang membahayakan bagi kesehatan manusia karena bersifat patogenik (menyebabkan penyakit), antara lain enterobacter dan salmonella. 

Apalagi nih, jika pemerahan dilakukan secara manual, ditambah sanitasi lingkungan pemerahan yang rendah.  Lha pemerahan dengan  alat otomatis juga tidak  bisa  membebaskan susu dari kontaminasi bakteri  kok.  Karenanya, sangat tidak dianjurkan meminum susu cair segar mentah.  Untuk ‘menghilangkan’ bakteri-bakteri tersebut, maka susu mutlak diawetkan. 

Pengawetan yang paling sederhana adalah melalui pemanasan.  Jika daerah amom, banyak orang jualan susu segar mentah, jangan lupa ya untuk  memasaknya terlebih dahulu.  Susu harus dipanaskan sampai benar-benar mendidih, untuk memastikan bakteri patogen maupun mikroba perusak susu benar-benar mati.  olala..

Pasteurisasi dan UHT
Ini nih, cara memasak susu. Lantas apa pula bedanya? prinsipnya, perlakuan kedua proses tersebut adalah sama, yaitu dipanaskan.  Bedanya terletak pada suhu dan lamanya pemanasan.

Pasteurisasi (karena penemunya bernama Louis Pasteur) adalah proses memanaskan  susu dibawah titik didihnya. Tujuannya untuk membunuh semua mikroorganisme pathogen. Membuat susu aman dikonsumsi, juga memperpanjang umur simpan dari susu karena sebagian bakteri perusak/pembusuk susu juga mati. 

Pasteurisasi susu dapat dilakukan secara LTLT (Low Temperature, Long Time) maupun HTST (High Temperature, Short Time).  Pasteurisasi LTLT artinya, susu dipanaskan pada suhu 63 oC selama 30 menit.  Sedangkan pasteurisasi HTST adalah memanaskan susu pada 72 oC selama 16 detik, setelah itu susu didinginkan hingga 4 oC.

Susu pasteurisasi dapat bertahan selama 12 sampai 16 hari dari tanggal atau hari pemrosesan, jika disimpan pada suhu yang ideal, yaitu 3o – 6 oC.  Karenanya, susu pasteurisasi harus disimpan dalam lemari es. 

Tapi tolong dicatat! umur simpan selama itu (sampai 16 hari) hanya untuk susu pasteurisasi yang belum dibuka.  Setelah dibuka, habiskan segera lho ya..

Pasteurisasi efektif membunuh bakteri-bakteri yang berpotensi patogenik di dalam susu.  Namun proses ini ternyata oh ternyata tidak  bisa mematikan sporanya, terutama spora bakteri yang bersifat termoresisten alias tahan terhadap suhu tinggi.

Berikutnya UHT (Ultra High Temperature) adalah sterilisasi parsial yang diterapkan pada produk-produk pangan, termasuk susu, untuk melenyapkan semua bakteri pembusuk maupun pathogen berikut sporanya.  Dalam proses ini, susu dipanaskan pada suhu sangat tinggi yang melampaui titik didihnya (minimal 135 oC) selama 2 hingga 5 detik,  bentar banget ya? Alatnya kayak apa ya?  selanjutnya susu dikemas dalam kemasan yang aseptik.

Umur simpan susu UHT ini tentu jauh lebih panjang dari susu pasteurisasi, bisa  sampai 6 bulan tanpa refrigerasi [pendinginan] lho.  Tapi yang belum dibuka donk. Begitu dibuka, susu UHT  mudah terkontaminasi dengan bakteri pembusuk.  Jadi si susu harus disimpan di lemari es (suhu 3-5 oC) dan segera dihabiskan  paling lama 7-10 hari.  Kalau saya sih 2 hari ludezz untuk yang 1L. 



Selain umur simpan, perbedaan susu pasteurisasi dengan susu UHT terletak pada rasa.  Susu UHT memiliki cita rasa yang lebih ‘matang’ dari susu pasteurisasi.  Dan lebih MANTABS [EG – dari berbagai sumber]

Narasumber : Nunung Nurjanah, SP., ahli gizi di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor, ibu dari 1 orang putri (Kamila, 2 thn 6 bln), dan seorang penulis.
Daftar sumber tertulis:





0 comments:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Hepimam | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL